Apa Kita Masih Peduli Dengan Sesama? Simak Kisah Si Tikus dan Teman-Temannya

Di suatu desa terpecil daerah pedalaman, hidup sebuah keluarga petani dengan segala hewan ternak yang dipeliharanya sebagai mata pencaharian.  Jery, si tikus kecil yang telah lama hidup dari makanan keluarga petani itu mulai resah. Keresahannya dikarenakan keluarga tersebut ingin membasmi tikus yang selalu berkeliaran di dalam rumahnya. Jery selalu memperhatikan gerak-gerik keluarga petani itu, karena takut sekali dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya.

Suatu hari, Jery mengintai melalui sebuah lubang dinding rumah untuk melihat rencana apa yang akan dilakukan oleh keluarga petani tersebut, sungguh celaka, ternyata Jery mendapatkan bahwa keluarga tersebut membuka sebuah bungkusan yang isinya adalah perangkap tikus. Rasanya Jery seperti mati seketika saat itu ketika mengetahui benda tersebut.  

Dengan bergegas lari menuju kandang-kandang hewan ternak yang terletak di belakang rumah petani, Jerry mencoba memberi peringatan kepada teman-temannya.  

"Ada perangkap tikus…. Ada perangkap tikus….!" Seru Jery,

Sang ayam berdecak sambil terus menggaruk tanah mencari makan, dan mengangkat kepalanya seraya berkata "Tuan tikus, ini adalah masalah besar untuk mu, kau akan segera menemukan pemakamanmu, tapi berita ini tak ada pengaruhnya sama sekali dengan ku".

Jery kemudian berpaling ke arah sang kambing dan berkata "Ada perangkap tikus di dalam rumah!"

Sang kambing pun bersimpati kepada Jerry, tetapi lalu berkata "Saya turut bersedih tuan tikus, tak ada yang dapat saya lakukan kecuali berdoa. Semoga kau selalu dilindungi"

Jery lalu berpaling ke arah sang sapi dan berkata "Ada perangkap tikus di rumah…! Ada perangkap tikus di rumah…!

Lalu sang sapi pun menjawab "Wow, saya turut berduka untuk mu. Tapi itu bukan urusan ku"

Dengan kepala tertunduk dan perasaan sedih karena tak ada temannya yang mau memperdulikan keluhannya, Jery pun kembali ke arah rumah petani untuk menghadapi perangkap tikus itu sendiri. Saat itu malam sudah tiba, terdengar suara seperti perangkap tikus telah menangkap korbannya.

Isteri si petani dengan tergesa-gesa mencoba untuk melihat apa yang telah terperangkap. Di dalam kegelapan malam, dia tidak menyadari bahwa yang terperangkap adalah seekor ular beracun yang ekornya terjepit oleh perangkap tikus. Dengan sangat cepat ular tersebut menggigit isteri petani hingga jatuh tak sadarkan diri.

Pak tani lalu membawa isterinya secepat mungkin ke rumah sakit, tapi tetap saja demam menyelimuti sang istri meski sudah di bawa kembali pulang ke rumah. Semua orang di desa itu tahu, salah satu cara untuk menurunkan demam adalah dengan menyantap sup ayam segar. Lalu pak tani pun pergi ke kandang ayamnya untuk menyembelih ayam, sebagai bahan sup.

Tetapi sakit isterinya tak mau hilang, sehingga para kerabat-kerabat dan tetangganya datang menjeguk sambil menungguinya sembuh. Untuk menjamu makan mereka, pak tani pun menyembelih kambing peliharaannya.  

Takdir berkehendak lain, isteri pak tani tidak kunjung sembuh dan menemui ajalnya. Begitu banyak orang yang datang ke acara pemakaman isterinya, pak tani pun lalu menyembelih sapi untuk menjamu makan para pelayat yang datang.  

Jery sang tikus terlihat begitu sedih ketika mengintip melalui lubang rumah keluarga petani menyaksikan apa yang telah terjadi terhadap teman-temannya dalam sekejap.  

"Seharusnya kan aku yang menemui ajal dengan adanya perangkap tikus itu, bukan si ayam, kambing, dan si sapi" Jerry berkata dalam hati dengan wajah yang sedih juga keheranan.  

Jadi, jika suatu saat kita mendengar seseorang sedang berada dalam sebuah masalah dan kita berpikir bahwa itu tak akan ada kaitannya dengan kita, ingatlah kita semua juga akan terkena resikonya cepat atau lambat. Kita hidup di dunia ini saling membutuhkan, masing-masing dari kita adalah ibarat "benang" penting dalam "permadani" orang lain.



loading...

Leave a Comment