Saat Tinggal di Rumah Baru, Terdengar Suara Aneh dan Berisik, Tapi Ternyata...

Posted on 2017-04-22 12:23



Aku dan suamiku selalu ingin memiliki rumah yang tetap. Selama ini kami selalu menyewa rumah dan bagi kami hal ini cukup menyulitkan kami. Kami selalu membayar apa yang tidak akan menjadi milik kami. Kami yakin kalau kami menabung sedikit lebih, impian kami ini pasti akan tercapai.

Akhirnya di awal tahun ini, kami membeli sebuah rumah second yang sudah tidak lagi diinginkan. Rumah ini kecil, posisinya jauh dari kota, jauh dari keramaian. Tetangga tidak banyak, hanya beberapa, tapi hal ini cukup bagi kami. Akhirnya jadilah tempat ini sarang cinta kami.

Uang yang tersisa setelah kami membeli rumah ini juga kami gunakan untuk merenovasi rumah. Membongkar apa yang tidak kami inginkan dan memasang segala sesuatu yang kami inginkan, dengan harga murah tentunya. Setelah semua perencanaan kami selesai, hidup kami terasa jauh lebih indah.

Hari itu setelah kami selesai mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan oleh rumah kami, kami pun merayakannya kecil-kecilan dengan memasak hotpot. Ditambah dengan sedikit anggur, hotpot yang dimakan di rumah kami rasanya terasa jauh lebih enak. Walaupun isinya juga biasa-biasa saja, tapi makan di rumah sendiri rasanya jauh berbeda.

Setelah kami tinggal di rumah itu selama beberapa hari, suatu malam kami mendengar ada suara aneh dari tetangga kami. Apa yang kami dengar itu seperti nyanyian, tapi nyanyian itu sangat aneh. Suara nyanyian yang cukup keras itu membuat kami terganggu selama beberapa hari, dan kami memutuskan untuk mengetuk pintu dan mengunjungi tetangga kami.

Setelah pintu dibuka, kami bertemu dengan seorang kakek tua. Suamiku mencoba menjelaskan keadaan kami dengan pelan dan sopan, karena beliau adalah seorang yang lebih senior dari kami.

Setelah mendengar semua penjelasan kami, kakek itu berkata, "Aduh, maafkan saya. Saya nggak tahu kalau rumah sebelah ada orang.

Selama ini saya kira kosong. Maaf. Aku cuman kangen anak cucuku. Lagu yang kunyanyiin itu lagu favorit cucuku."
Mendengar cerita kakek, kami juga ikut sedih setelah melihat mata kakek berkaca-kaca.

Ternyata anaknya sekarang ada di luar negeri dan sudah 3 tahun tidak mengunjungi beliau. Setelah cerita panjang lebar, kakek pun menangis. Sebagai tetangga, kami tidak bisa membantu apapun selain menemaninya di waktu luang kami.

Terakhir, kami tahu dari kakek setelah sekian lama, kakek bilang beliau sudah menganggap kami seperti anaknya sendiri. Mendengar ini kami juga terharu dan bersyukur. Ternyata kebaikan yang kami anggap kecil itu berharga bagi orang lain.



loading...


"Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan." - Ibnu Mas’ud





Artikel Lainnya
X
Like & Share